Indonesia Badan Investasi Danantara akan memulai konstruksi berbagai proyek strategis pada tahun 2026, dengan fokus utama pada proyek unggulan dan enam proyek hilirisasi industri, serta secara bersamaan merencanakan 18 proyek prioritas di bidang hilirisasi dan ketahanan energi. Total investasi sangat besar, mencakup berbagai sektor kunci seperti pengolahan mineral, transisi energi, pertanian, dan kesejahteraan rakyat. Dalam hal proyek unggulan, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) gelombang pertama akan dibangun di empat wilayah matang yaitu Bekasi, Bogor, Bali, dan Yogyakarta, dengan konstruksi bertahap pada Maret–Juni, masing-masing proyek bernilai sekitar 2–3 triliun rupiah. Proyek unggulan lainnya – Proyek Desa Haji Mekkah Saudi direncanakan mulai konstruksi pada kuartal keempat. Hanya untuk akuisisi hotel proyek ini menghabiskan 500 juta dolar AS, dan pembangunan selanjutnya akan membutuhkan investasi 700–800 juta dolar AS. Memasuki bulan Februari, Danantara akan memulai konstruksi serentak enam proyek hilirisasi utama, meliputi:
  • Pabrik peleburan alumina bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat (investasi 2,4 miliar dolar AS)
  • Proyek alumina grade peleburan dari bauksit (890 juta dolar AS)
  • Fasilitas produksi bahan bakar penerbangan hayati di Cilacap, Jawa Tengah (1,1 miliar dolar AS)
  • Proyek bioetanol di Banyuwangi, Jawa Timur (80 juta dolar AS)
  • Proyek hilirisasi kelapa terpadu di Morowali, Sulawesi Tengah (100 juta dolar AS)
  • Proyek peternakan unggas di lima lokasi nasional
Sementara itu, proyek batu bara menjadi dimetil eter (DME) juga akan memulai persiapan konstruksi bulan depan, dengan aspek teknis masih dalam analisis internal. Selain itu, Danantara sedang merencanakan 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi, dengan total investasi masing-masing triliunan rupiah, mencakup:
  • Pengolahan mineral (misalnya peleburan aluminium, DME, baja tahan karat, dll.)
  • Proyek energi (kilang minyak, depot penyimpanan minyak, dll.)
  • Proyek transisi energi (komponen panel surya, bahan bakar penerbangan hayati, dll.)
  • Industri pertanian dan kelautan (pengolahan ikan nila, ekstraksi karagenan, dll.)
Proyek-proyek ini diperkirakan akan menciptakan banyak lapangan kerja, sebagian dapat mencapai substitusi impor dan mendorong perekonomian rakyat, semakin memperkuat rantai industri dalam negeri Indonesia, mendorong transisi energi dan peningkatan industri, serta meningkatkan lapangan kerja dan vitalitas ekonomi.