GEM Group melalui anak perusahaannya PT QMB New Energy Materials Co., gencar mendorong hilirisasi sumber daya nikel di Indonesia, membantu Indonesia mengambil posisi strategis yang lebih penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) global. Chairman dan pendiri GEM Group di Jakarta menyatakan, sebelumnya banyak bijih nikel laterit kadar rendah di Indonesia tidak dimanfaatkan secara efektif. Kini, melalui teknologi pengembangan sendiri, tidak hanya dapat memproses bijih tersebut lebih dalam, tetapi juga mencapai pemulihan efisien sumber daya nikel dan kobalt dengan tingkat pemulihan komprehensif di atas 90%.
Dengan mengandalkan teknologi ini, GEM membangun fasilitas rantai produksi terintegrasi di Indonesia mulai dari pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai, di mana nikel sulfat dan prekursor merupakan bahan baku inti rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Langkah ini dipandang sebagai strategi penting peningkatan industri nikel Indonesia, menandai transformasi Indonesia dari sekadar negara pengekspor bahan baku nikel menjadi pelaku kunci dalam rantai industri energi baru global. Data operasional menunjukkan, selama periode 2024-2025, kawasan industri GEM di Morowali mencapai nilai ekspor sekitar USD 2,5 miliar, memberikan kontribusi pajak sebesar USD 400 juta, dan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja lokal, yang sepenuhnya menunjukkan bahwa hilirisasi nikel tidak hanya mengoptimalkan struktur industri, tetapi juga secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal inovasi teknologi, GEM juga meningkatkan penataan, bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk membangun fasilitas penelitian dan pengembangan bersama dengan total investasi sekitar USD 30 juta. Laboratorium ini dilengkapi dengan lebih dari 300 unit perangkat penelitian dan pengembangan, mencakup seluruh proses penelitian dari proses metalurgi hingga evaluasi kinerja material baterai, bertujuan untuk memperkuat sinergi industri-akademik-penelitian dan mempercepat iterasi teknologi pengolahan nikel lokal Indonesia. Dalam jangka panjang, kerja sama teknologi dan sinergi industri ini akan secara efektif mengurangi ketergantungan Indonesia pada teknologi eksternal, memperkuat dasar inovasi nasional, dan mendorong Indonesia menuju pembangunan yang lebih mandiri dan bernilai tambah tinggi dalam rantai industri energi baru global.
GEM Group melalui anak perusahaannya PT QMB New Energy Materials Co., gencar mendorong hilirisasi sumber daya nikel di Indonesia, membantu Indonesia mengambil posisi strategis yang lebih penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) global. Chairman dan pendiri GEM Group di Jakarta menyatakan, sebelumnya banyak bijih nikel laterit kadar rendah di Indonesia tidak dimanfaatkan secara efektif. Kini, melalui teknologi pengembangan sendiri, tidak hanya dapat memproses bijih tersebut lebih dalam, tetapi juga mencapai pemulihan efisien sumber daya nikel dan kobalt dengan tingkat pemulihan komprehensif di atas 90%.
Dengan mengandalkan teknologi ini, GEM membangun fasilitas rantai produksi terintegrasi di Indonesia mulai dari pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai, di mana nikel sulfat dan prekursor merupakan bahan baku inti rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Langkah ini dipandang sebagai strategi penting peningkatan industri nikel Indonesia, menandai transformasi Indonesia dari sekadar negara pengekspor bahan baku nikel menjadi pelaku kunci dalam rantai industri energi baru global. Data operasional menunjukkan, selama periode 2024-2025, kawasan industri GEM di Morowali mencapai nilai ekspor sekitar USD 2,5 miliar, memberikan kontribusi pajak sebesar USD 400 juta, dan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja lokal, yang sepenuhnya menunjukkan bahwa hilirisasi nikel tidak hanya mengoptimalkan struktur industri, tetapi juga secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam hal inovasi teknologi, GEM juga meningkatkan penataan, bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk membangun fasilitas penelitian dan pengembangan bersama dengan total investasi sekitar USD 30 juta. Laboratorium ini dilengkapi dengan lebih dari 300 unit perangkat penelitian dan pengembangan, mencakup seluruh proses penelitian dari proses metalurgi hingga evaluasi kinerja material baterai, bertujuan untuk memperkuat sinergi industri-akademik-penelitian dan mempercepat iterasi teknologi pengolahan nikel lokal Indonesia. Dalam jangka panjang, kerja sama teknologi dan sinergi industri ini akan secara efektif mengurangi ketergantungan Indonesia pada teknologi eksternal, memperkuat dasar inovasi nasional, dan mendorong Indonesia menuju pembangunan yang lebih mandiri dan bernilai tambah tinggi dalam rantai industri energi baru global.