Seorang tokoh senior industri migas Indonesia memperkirakan bahwa untuk meningkatkan cadangan minyak mentah dari saat ini sekitar 20 hari menjadi 90 hari (standar internasional), perlu membangun 56 tangki penyimpanan minyak mentah baru dengan kapasitas masing-masing 2 juta barel. Dengan konsumsi bahan bakar harian nasional sebesar 1,6 juta barel, tambahan cadangan 70 hari membutuhkan kapasitas penyimpanan baru sekitar 112 juta barel, setara dengan 56 tangki berkapasitas 2 juta barel. Ia menghitung total investasi untuk membangun tangki-tangki ini sekitar Rp378,65 triliun (US$22,4 miliar), biaya per tangki sekitar US$400 juta, dan estimasi waktu konstruksi 36 bulan.
Jika memilih menyewa tangki, biaya sewa harian untuk tangki berkapasitas 2 juta barel sekitar US$200.000 (Rp33,8 miliar), total sewa 56 tangki per hari sekitar US$11,2 juta (Rp1,893 triliun), dan sewa tahunan sekitar US$4,08 miliar (Rp68,97 triliun). Saat ini cadangan minyak mentah dan produk minyak Indonesia hanya 20–23 hari, dengan kapasitas desain maksimal 25 hari, lebih rendah dari standar Badan Energi Internasional (IEA) minimal 90 hari impor bersih.
Namun pejabat resmi menyatakan bahwa 23 hari termasuk stok operasional yang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional dengan dukungan impor berkelanjutan dan produksi dalam negeri. Berdasarkan peraturan Badan Pengatur Hilir Migas tahun 2020, perusahaan diwajibkan menjaga stok operasional minimal 23 hari. Menteri ESDM menyatakan bahwa Indonesia sangat membutuhkan tangki penyimpanan minyak mentah baru untuk memperkuat ketahanan energi, terutama saat pelayaran di Selat Hormuz terhambat, sehingga menjaga pasokan yang stabil ke kilang dalam negeri menjadi lebih krusial. Proyek ini direncanakan akan didanai oleh investasi bersama modal swasta dalam dan luar negeri (tidak termasuk dana AS), dan saat ini pihak investor sudah ditentukan.
社会动态
Cadangan Minyak Mentah Indonesia Hanya Bertahan 23 Hari, Perlu 56 Tangki Baru untuk Capai Standar Internasional
Seorang tokoh senior industri migas Indonesia memperkirakan bahwa untuk meningkatkan cadangan minyak mentah dari saat ini sekitar 20 hari menjadi 90 hari (standar internasional), perlu membangun 56 tangki penyimpanan minyak mentah baru dengan kapasitas masing-masing 2 juta barel. Dengan konsumsi bahan bakar harian nasional sebesar 1,6 juta barel, tambahan cadangan 70 hari membutuhkan kapasitas penyimpanan baru sekitar 112 juta barel, setara dengan 56 tangki berkapasitas 2 juta barel. Ia menghitung total investasi untuk membangun tangki-tangki ini sekitar Rp378,65 triliun (US$22,4 miliar), biaya per tangki sekitar US$400 juta, dan estimasi waktu konstruksi 36 bulan.
Jika memilih menyewa tangki, biaya sewa harian untuk tangki berkapasitas 2 juta barel sekitar US$200.000 (Rp33,8 miliar), total sewa 56 tangki per hari sekitar US$11,2 juta (Rp1,893 triliun), dan sewa tahunan sekitar US$4,08 miliar (Rp68,97 triliun). Saat ini cadangan minyak mentah dan produk minyak Indonesia hanya 20–23 hari, dengan kapasitas desain maksimal 25 hari, lebih rendah dari standar Badan Energi Internasional (IEA) minimal 90 hari impor bersih.
Namun pejabat resmi menyatakan bahwa 23 hari termasuk stok operasional yang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional dengan dukungan impor berkelanjutan dan produksi dalam negeri. Berdasarkan peraturan Badan Pengatur Hilir Migas tahun 2020, perusahaan diwajibkan menjaga stok operasional minimal 23 hari. Menteri ESDM menyatakan bahwa Indonesia sangat membutuhkan tangki penyimpanan minyak mentah baru untuk memperkuat ketahanan energi, terutama saat pelayaran di Selat Hormuz terhambat, sehingga menjaga pasokan yang stabil ke kilang dalam negeri menjadi lebih krusial. Proyek ini direncanakan akan didanai oleh investasi bersama modal swasta dalam dan luar negeri (tidak termasuk dana AS), dan saat ini pihak investor sudah ditentukan.