Selama Ramadan 2026, belanja rumah tangga Indonesia diperkirakan akan meningkat, namun pertumbuhannya lebih rasional dan selektif, dengan Kecantikan, Barang Konsumen Cepat Bergerak (FMCG), dan Fashion menjadi tiga kategori paling populer. Riset InMobi menunjukkan 74% konsumen meningkatkan anggaran belanja Ramadan dibandingkan tahun lalu. Meskipun daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya, Ramadan tetap menjadi momen konsumsi utama untuk memenuhi kebutuhan fungsional. Data internal SIRCLO menunjukkan aktivitas belanja online mencapai puncak pada dua minggu sebelum Ramadan, dengan kategori pencarian terpanas adalah kecantikan dan perawatan diri, kesehatan, serta fashion. Chief Operating Officer SIRCLO menyatakan bahwa pola konsumsi ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen, di mana masyarakat tidak lagi berbelanja impulsif, tetapi lebih rasional dalam merencanakan prioritas belanja. Ia menunjuk bahwa produk kecantikan dan perawatan tubuh menjadi populer, seiring mendekatnya Idul Fitri, permintaan masyarakat akan kebutuhan perawatan diri meningkat, dan promosi bundling serta diskon di awal Ramadan juga mendorong pertumbuhan transaksi. Kategori kesehatan juga mengalami pertumbuhan, permintaan akan vitamin, suplemen, dan produk kesehatan lainnya meningkat, mencerminkan kesadaran konsumen akan kesehatan. Kategori fashion tetap menjadi titik panas konsumsi, permintaan akan pakaian muslim, sepatu, dan aksesoris hari raya meningkat, konsumen cenderung berbelanja lebih awal untuk menghindari kenaikan harga menjelang Idul Fitri. Selain itu, kategori Barang Konsumen Cepat Bergerak (FMCG) juga mengalami peningkatan nilai transaksi, konsumen cenderung membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar untuk menghemat pengeluaran selama bulan Ramadan. Namun, beberapa analis berpendapat bahwa pertumbuhan belanja Ramadan lebih merupakan fenomena musiman, bukan cerminan peningkatan daya beli. Pakar pemasaran menyatakan bahwa belanja Ramadan tahun ini cenderung stagnan, meskipun ada pertumbuhan, itu terutama merupakan hasil realokasi anggaran rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan terkait budaya Idul Fitri, bukan karena daya beli yang lebih kuat. Ia menjelaskan, setiap tahun belanja Ramadan biasanya meningkat 1-2 minggu sebelum hari raya, melambat di pertengahan, dan meningkat lagi menjelang Idul Fitri, sehingga promosi sebelum hari raya paling efektif; sementara itu, belanja besar di akhir tahun seperti Natal, Tahun Baru, dan Imlek telah menguras anggaran rumah tangga, sehingga ruang belanja Ramadan tahun ini lebih sempit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.