Pemerintah Indonesia berencana menghentikan ekspor timah untuk mendorong pengembangan industri pengolahan mineral di dalam negeri. Ini merupakan langkah penting lainnya dalam kebijakan "hilirisasi" setelah larangan ekspor bauksit. Dalam acara "Prospek Ekonomi Indonesia" pada 13 Februari 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa setelah larangan ekspor bauksit pada 2025, pemerintah akan pada tahun 2026 mempelajari penghentian ekspor berbagai komoditas termasuk timah. Menteri menegaskan bahwa ekspor bahan mentah bukan lagi pilihan, dan harus beralih ke pembangunan industri peleburan dan pengolahan di dalam negeri untuk mengembangkan produk bernilai tambah tinggi. Ia mencontohkan kebijakan nikel untuk menunjukkan hasil hilirisasi:
  • Sebelum kebijakan (2018-2019): Nilai ekspor bijih nikel hanya sekitar US$3,3 miliar.
  • Setelah kebijakan (2024): Setelah melarang ekspor mineral mentah dan mengembangkan industri hilir, nilai ekspor produk terkait nikel meningkat menjadi sekitar US$34 miliar, hampir 10 kali lipat.
Kebijakan ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, tetapi juga dipandang sebagai mesin utama untuk mewujudkan visi "Indonesia Emas 2045". Presiden Prabowo telah menetapkan hilirisasi sebagai prioritas nasional, dengan mengidentifikasi 18 proyek prioritas dengan total nilai sekitar 618 triliun rupiah, meliputi: bauksit, nikel, gasifikasi batubara, dan kilang minyak. Proyek-proyek ini bertujuan untuk menggantikan impor dengan produk substitusi produksi dalam negeri, dan diperkirakan akan menarik investasi sekitar US$618 miliar, di mana hampir US$500 miliar berasal dari sektor mineral dan batubara. Berdasarkan rencana, strategi hilirisasi diperkirakan akan memberikan manfaat jangka panjang sebagai berikut:
  • Tambahan nilai ekspor sekitar US$857,9 miliar
  • Kontribusi PDB meningkat sekitar US$235,9 miliar
  • Penciptaan lapangan kerja lebih dari 3 juta
Ia mengimbau investor dan perbankan dalam negeri untuk secara aktif membiayai proyek-proyek ini, guna memastikan nilai tambah tetap berada di dalam negeri dan memanfaatkan peluang besar pasar domestik.