Indonesia, dengan cadangan nikel yang melimpah, sedang membangun ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi terbesar di Asia. Inti dari proyek ini dilaksanakan oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) bekerja sama dengan perusahaan China Ningbo Ronbay Mengguli. Total investasi proyek hulu dan hilir mencapai 5,9 miliar dolar AS (sekitar 96,04 triliun rupiah), terdiri dari enam perusahaan patungan yang mencakup seluruh rantai industri mulai dari penambangan nikel, peleburan, produksi bahan baterai, manufaktur sel baterai, hingga daur ulang baterai.
Tiga perusahaan patungan di hulu merupakan kerja sama antara PT Aneka Tambang (Antam) dengan perusahaan China. Proyek penambangan nikel telah beroperasi sejak tahun 2023, dan dua pabrik peleburan nikel masing-masing direncanakan beroperasi pada tahun 2027 dan 2028. Tiga perusahaan patungan di hilir didirikan oleh IBC bersama perusahaan China. Proyek bahan katoda dan proyek daur ulang baterai masing-masing direncanakan beroperasi pada tahun 2028 dan 2031. Pabrik sel baterai di Karawang direncanakan fase pertama berkapasitas 6,9 GWh akan beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2026, dan setelah fase kedua beroperasi, total kapasitas mencapai 15 GWh.
Awalnya, saham IBC dimiliki oleh empat BUMN Indonesia masing-masing sebesar 25%, yaitu BUMN pertambangan MIND ID, Antam, Pertamina, dan Perusahaan Listrik Negara (PLN), masing-masing berperan dalam pasokan nikel, manufaktur baterai, dan infrastruktur pengisian daya. Baru-baru ini terjadi penyesuaian struktur kepemilikan saham IBC, di mana PLN mentransfer 17,5% saham ke dalam grup MIND ID, sehingga kepemilikan sahamnya turun menjadi 7,5%. MIND ID bersama Antam secara total memegang 67,5% saham dan menjadi pemegang saham pengendali, sementara Pertamina masih memegang 25%.
Komisi terkait di DPR menyatakan bahwa penyesuaian kepemilikan saham bertujuan agar MIND ID dapat melakukan manajemen terintegrasi, meningkatkan efisiensi operasional IBC, mempercepat pengembangan proyek baterai dan kemajuan teknologi. Presiden Direktur IBC juga mengkonfirmasi pengurangan porsi saham PLN, dan saat ini PLN masih memegang 7,5% saham IBC.
行业快讯
China dan Indonesia Bersama-sama Membangun Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Terbesar di Asia
Indonesia, dengan cadangan nikel yang melimpah, sedang membangun ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi terbesar di Asia. Inti dari proyek ini dilaksanakan oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) bekerja sama dengan perusahaan China Ningbo Ronbay Mengguli. Total investasi proyek hulu dan hilir mencapai 5,9 miliar dolar AS (sekitar 96,04 triliun rupiah), terdiri dari enam perusahaan patungan yang mencakup seluruh rantai industri mulai dari penambangan nikel, peleburan, produksi bahan baterai, manufaktur sel baterai, hingga daur ulang baterai.
Tiga perusahaan patungan di hulu merupakan kerja sama antara PT Aneka Tambang (Antam) dengan perusahaan China. Proyek penambangan nikel telah beroperasi sejak tahun 2023, dan dua pabrik peleburan nikel masing-masing direncanakan beroperasi pada tahun 2027 dan 2028. Tiga perusahaan patungan di hilir didirikan oleh IBC bersama perusahaan China. Proyek bahan katoda dan proyek daur ulang baterai masing-masing direncanakan beroperasi pada tahun 2028 dan 2031. Pabrik sel baterai di Karawang direncanakan fase pertama berkapasitas 6,9 GWh akan beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2026, dan setelah fase kedua beroperasi, total kapasitas mencapai 15 GWh.
Awalnya, saham IBC dimiliki oleh empat BUMN Indonesia masing-masing sebesar 25%, yaitu BUMN pertambangan MIND ID, Antam, Pertamina, dan Perusahaan Listrik Negara (PLN), masing-masing berperan dalam pasokan nikel, manufaktur baterai, dan infrastruktur pengisian daya. Baru-baru ini terjadi penyesuaian struktur kepemilikan saham IBC, di mana PLN mentransfer 17,5% saham ke dalam grup MIND ID, sehingga kepemilikan sahamnya turun menjadi 7,5%. MIND ID bersama Antam secara total memegang 67,5% saham dan menjadi pemegang saham pengendali, sementara Pertamina masih memegang 25%.
Komisi terkait di DPR menyatakan bahwa penyesuaian kepemilikan saham bertujuan agar MIND ID dapat melakukan manajemen terintegrasi, meningkatkan efisiensi operasional IBC, mempercepat pengembangan proyek baterai dan kemajuan teknologi. Presiden Direktur IBC juga mengkonfirmasi pengurangan porsi saham PLN, dan saat ini PLN masih memegang 7,5% saham IBC.