Indonesia berencana memotong produksi batubara dan nikel pada tahun 2026, langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan di pasar internasional kedua komoditas tersebut, sehingga menstabilkan harga komoditas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menjelaskan bahwa saat ini harga batubara, nikel, dan komoditas lainnya terus turun akibat kelebihan pasokan global, di mana ekspor Indonesia sendiri menjadi faktor penting. Ia menunjuk ekspor batubara Indonesia mencapai 500-600 juta ton per tahun, hampir 50% dari total perdagangan batubara global sebesar 1,3 miliar ton, yang menjadi penyebab utama rendahnya harga batubara internasional. Dengan mengatur produksi dan memperketat pasokan, pemerintah dapat membantu perusahaan domestik mendapatkan harga jual yang wajar serta menciptakan pendapatan negara yang lebih optimal. Selain menstabilkan harga, kebijakan pemotongan produksi juga bertujuan menghindari eksploitasi berlebihan sumber daya mineral dalam negeri. Ia menekankan bahwa sumber daya mineral adalah kekayaan untuk generasi mendatang, dan saat harga rendah, produksi harus dikurangi, serta melalui Rencana Kerja Tahunan untuk mengatur perilaku perusahaan, menekan perusahaan tambang yang mengabaikan peraturan lingkungan, guna menjamin pemanfaatan berkelanjutan sumber daya. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang mengevaluasi secara menyeluruh target produksi batubara tahun 2026, yang diperkirakan akan turun menjadi kurang dari 700 juta ton. Pada tahun 2025, target produksi batubara Indonesia adalah 735 juta ton, sementara realisasi produksi sepanjang tahun diperkirakan sekitar 750 juta ton, turun hampir 100 juta ton dari puncak historis sebesar 836 juta ton pada tahun 2024. Penyebab utama penurunan adalah melemahnya permintaan dari pasar ekspor utama seperti China dan India, di mana peningkatan kapasitas produksi batubara China sendiri semakin menekan permintaan impor. Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Batubara Ditjen Minerba memperkirakan tahun ini ekspor batubara Indonesia ke China dan India akan berkurang 20-30 juta ton. Ia juga menyebut total cadangan batubara Indonesia mencapai 93 miliar ton, dengan cadangan terbukti 31 miliar ton, namun terdapat kelemahan kualitas yang signifikan. Batubara kalori rendah mencapai 73%, batubara kalori tinggi hanya 5%, dan batubara kalori sedang sekitar 8%. Kelemahan kualitas ini mengurangi daya saing batubara Indonesia di pasar internasional, terutama di tengah permintaan global yang kuat terhadap batubara kalori tinggi, sementara batubara kalori tinggi di Indonesia sebagian besar berasal dari tambang tua.