Indonesia yang selama ini 100% bergantung pada impor derivatif plasma akan segera berubah. Melalui Otoritas Investasi Indonesia (INA), Indonesia bekerja sama dengan SK Group Korea Selatan melalui SK Plasma, untuk membangun pabrik fraksinasi derivatif plasma (PDMP) pertama dan terbesar di Asia Tenggara, yang diharapkan dapat mengakhiri sejarah ketergantungan impor sepenuhnya.
Wakil Presiden INA yang menangani ESG menyatakan bahwa sebelumnya seluruh kebutuhan plasma Indonesia dipenuhi melalui impor. Pabrik yang dibangun melalui kerja sama ini berlokasi di Kawasan Industri Internasional Karawang dan direncanakan beroperasi pada kuartal keempat tahun 2026, dengan kapasitas pengolahan 600.000 liter plasma per tahun, yang akan memproduksi obat derivatif plasma (PODP) seperti albumin dan imunoglobulin. Proyek ini dijalankan oleh perusahaan patungan INA dan SK Plasma, yaitu PT SKPlasma Core Indonesia (perjanjian investasi ditandatangani pada 14 November 2024), dengan INA sebagai pemegang saham kedua terbesar. Ini juga merupakan pertama kalinya perusahaan Korea berhasil menarik investasi dari INA.
SK Plasma telah memperoleh izin dari Kementerian Kesehatan untuk menjalankan bisnis PDMP dan mendirikan perusahaan patungan. Setelah pabrik selesai dibangun, selain menjamin pasokan obat-obatan penting seperti albumin yang diperlukan untuk keadaan darurat dan operasi, proyek ini juga akan mendorong Indonesia beralih dari "pasar" menjadi "negara produsen", mewujudkan kemandirian dalam derivatif plasma. Selama masa konstruksi, SK Plasma akan menjamin pasokan melalui skema Contract Manufacturing Organization (CMO): Indonesia akan mengirimkan plasma dari donor lokal ke Pabrik Andong di Korea, dan PDMP yang dihasilkan akan dijual kembali ke Indonesia; sekaligus memberikan pelatihan awal bagi tenaga kerja lokal Indonesia untuk mempercepat stabilisasi produksi.
Plasma, sebagai cairan kekuningan yang 92% terdiri dari air dalam darah, berfungsi mengangkut limbah sel ke hati dan ginjal untuk dikeluarkan, serta menjaga suhu tubuh. Produk fraksinasinya sangat penting bagi dunia medis. Kerja sama ini tidak hanya mengandalkan keunggulan SK Plasma dalam operasi dan teknologi pabrik PDMP, tetapi juga mencerminkan tekad Indonesia untuk mencapai kemandirian nasional di bidang medis.
Indonesia yang selama ini 100% bergantung pada impor derivatif plasma akan segera berubah. Melalui Otoritas Investasi Indonesia (INA), Indonesia bekerja sama dengan SK Group Korea Selatan melalui SK Plasma, untuk membangun pabrik fraksinasi derivatif plasma (PDMP) pertama dan terbesar di Asia Tenggara, yang diharapkan dapat mengakhiri sejarah ketergantungan impor sepenuhnya.
Wakil Presiden INA yang menangani ESG menyatakan bahwa sebelumnya seluruh kebutuhan plasma Indonesia dipenuhi melalui impor. Pabrik yang dibangun melalui kerja sama ini berlokasi di Kawasan Industri Internasional Karawang dan direncanakan beroperasi pada kuartal keempat tahun 2026, dengan kapasitas pengolahan 600.000 liter plasma per tahun, yang akan memproduksi obat derivatif plasma (PODP) seperti albumin dan imunoglobulin. Proyek ini dijalankan oleh perusahaan patungan INA dan SK Plasma, yaitu PT SKPlasma Core Indonesia (perjanjian investasi ditandatangani pada 14 November 2024), dengan INA sebagai pemegang saham kedua terbesar. Ini juga merupakan pertama kalinya perusahaan Korea berhasil menarik investasi dari INA.
SK Plasma telah memperoleh izin dari Kementerian Kesehatan untuk menjalankan bisnis PDMP dan mendirikan perusahaan patungan. Setelah pabrik selesai dibangun, selain menjamin pasokan obat-obatan penting seperti albumin yang diperlukan untuk keadaan darurat dan operasi, proyek ini juga akan mendorong Indonesia beralih dari "pasar" menjadi "negara produsen", mewujudkan kemandirian dalam derivatif plasma. Selama masa konstruksi, SK Plasma akan menjamin pasokan melalui skema Contract Manufacturing Organization (CMO): Indonesia akan mengirimkan plasma dari donor lokal ke Pabrik Andong di Korea, dan PDMP yang dihasilkan akan dijual kembali ke Indonesia; sekaligus memberikan pelatihan awal bagi tenaga kerja lokal Indonesia untuk mempercepat stabilisasi produksi.
Plasma, sebagai cairan kekuningan yang 92% terdiri dari air dalam darah, berfungsi mengangkut limbah sel ke hati dan ginjal untuk dikeluarkan, serta menjaga suhu tubuh. Produk fraksinasinya sangat penting bagi dunia medis. Kerja sama ini tidak hanya mengandalkan keunggulan SK Plasma dalam operasi dan teknologi pabrik PDMP, tetapi juga mencerminkan tekad Indonesia untuk mencapai kemandirian nasional di bidang medis.