Prospek ekonomi Indonesia tahun 2025 tidak baik, OECD memperkirakan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,9%, jauh di bawah target pemerintah 6-8%; laporan IMF Oktober memperkirakan pertumbuhan 4,9%, naik 0,1% dari sebelumnya; Bank Indonesia memperkirakan antara 4,6-5,4%, target pemerintah 5,2%, lebih tinggi dari perkiraan Bank Dunia (WB) sebesar 4,8%.
Dari data kuartalan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I sebesar 4,87%, kuartal II naik menjadi 5,12%, dan kuartal III melambat menjadi 5,04%, di bawah perkiraan ekonom sebesar 5,0%, karena pertumbuhan investasi turun dari 6,99% pada kuartal II menjadi 5,04% pada kuartal III, dan rasio investasi terhadap PDB hanya 31,48%, serta Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sebesar 6,245.
Dibandingkan dengan negara lain, ICOR Indonesia relatif tinggi, efisiensi ekonomi rendah. Misalnya, ICOR Vietnam, Thailand, Malaysia, dan India masing-masing 4,6%, 4,4%, 4,5%, dan 4,5%, sementara rasio investasi terhadap PDB India mirip dengan Indonesia, tetapi pertumbuhan ekonominya lebih tinggi. India berencana menurunkan ICOR menjadi 2,7 pada tahun 2030, sementara untuk mencapai pertumbuhan 8%, Indonesia membutuhkan rasio investasi terhadap PDB sebesar 49,96%.
Untuk mencapai target pertumbuhan 6-8%, pemerintah perlu meningkatkan efisiensi ekonomi, menurunkan ICOR menjadi 5-6; mendorong inovasi teknologi, meningkatkan cakupan transformasi digital; meningkatkan kemudahan berusaha, melakukan reformasi kelembagaan; menggunakan teknologi digital terkini; menentukan perusahaan pemimpin di sektor manufaktur, memfokuskan sumber daya untuk meningkatkan efisiensinya.
Prospek ekonomi Indonesia tahun 2025 tidak baik, OECD memperkirakan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,9%, jauh di bawah target pemerintah 6-8%; laporan IMF Oktober memperkirakan pertumbuhan 4,9%, naik 0,1% dari sebelumnya; Bank Indonesia memperkirakan antara 4,6-5,4%, target pemerintah 5,2%, lebih tinggi dari perkiraan Bank Dunia (WB) sebesar 4,8%.
Dari data kuartalan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I sebesar 4,87%, kuartal II naik menjadi 5,12%, dan kuartal III melambat menjadi 5,04%, di bawah perkiraan ekonom sebesar 5,0%, karena pertumbuhan investasi turun dari 6,99% pada kuartal II menjadi 5,04% pada kuartal III, dan rasio investasi terhadap PDB hanya 31,48%, serta Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sebesar 6,245.
Dibandingkan dengan negara lain, ICOR Indonesia relatif tinggi, efisiensi ekonomi rendah. Misalnya, ICOR Vietnam, Thailand, Malaysia, dan India masing-masing 4,6%, 4,4%, 4,5%, dan 4,5%, sementara rasio investasi terhadap PDB India mirip dengan Indonesia, tetapi pertumbuhan ekonominya lebih tinggi. India berencana menurunkan ICOR menjadi 2,7 pada tahun 2030, sementara untuk mencapai pertumbuhan 8%, Indonesia membutuhkan rasio investasi terhadap PDB sebesar 49,96%.
Untuk mencapai target pertumbuhan 6-8%, pemerintah perlu meningkatkan efisiensi ekonomi, menurunkan ICOR menjadi 5-6; mendorong inovasi teknologi, meningkatkan cakupan transformasi digital; meningkatkan kemudahan berusaha, melakukan reformasi kelembagaan; menggunakan teknologi digital terkini; menentukan perusahaan pemimpin di sektor manufaktur, memfokuskan sumber daya untuk meningkatkan efisiensinya.