Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendukung kebijakan Kementerian Perindustrian yang membatasi izin investasi dan Izin Usaha Industri (IUI) untuk pendirian smelter nikel baru, karena pasokan nikel global dan domestik telah mengalami kelebihan. Menteri ESDM menyatakan bahwa target dan kuota produksi nikel tahun 2026 akan disesuaikan, produksi kemungkinan turun dari 319 juta ton pada tahun 2025 menjadi di bawah 300 juta ton.
Aturan baru Kementerian Perindustrian melarang pendirian smelter independen baru untuk memproduksi produk antara (seperti nikel matte, MHP, feronikel, nikel pig iron), dan mewajibkan perpanjangan ke produk hilir (seperti nikel elektrolit, nikel sulfat, nikel klorida). Namun smelter yang sudah dalam tahap konstruksi masih dapat memproduksi produk antara. Saat ini Indonesia memiliki 147 proyek smelter nikel, dengan total kebutuhan bijih mencapai 735,2 juta ton.
Kuota RKAB yang disetujui tahun 2025 sebesar 364 juta ton, meningkat dibandingkan tahun 2023. Data ESDM menunjukkan target produksi bijih nikel tahun ini sebesar 220 juta ton, lebih rendah dari target tahun lalu sebesar 240 juta ton. Indonesia memiliki 44 smelter beroperasi (terutama di Maluku Utara), 19 proyek dalam konstruksi, dan 7 proyek dalam tahap studi kelayakan.
Pemerintah menekankan bahwa hilirisasi harus melampaui produk sekunder, beralih ke produk bernilai tambah tinggi, sesuai dengan Rencana Industri Nasional 2025-2035.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendukung kebijakan Kementerian Perindustrian yang membatasi izin investasi dan Izin Usaha Industri (IUI) untuk pendirian smelter nikel baru, karena pasokan nikel global dan domestik telah mengalami kelebihan. Menteri ESDM menyatakan bahwa target dan kuota produksi nikel tahun 2026 akan disesuaikan, produksi kemungkinan turun dari 319 juta ton pada tahun 2025 menjadi di bawah 300 juta ton.
Aturan baru Kementerian Perindustrian melarang pendirian smelter independen baru untuk memproduksi produk antara (seperti nikel matte, MHP, feronikel, nikel pig iron), dan mewajibkan perpanjangan ke produk hilir (seperti nikel elektrolit, nikel sulfat, nikel klorida). Namun smelter yang sudah dalam tahap konstruksi masih dapat memproduksi produk antara. Saat ini Indonesia memiliki 147 proyek smelter nikel, dengan total kebutuhan bijih mencapai 735,2 juta ton.
Kuota RKAB yang disetujui tahun 2025 sebesar 364 juta ton, meningkat dibandingkan tahun 2023. Data ESDM menunjukkan target produksi bijih nikel tahun ini sebesar 220 juta ton, lebih rendah dari target tahun lalu sebesar 240 juta ton. Indonesia memiliki 44 smelter beroperasi (terutama di Maluku Utara), 19 proyek dalam konstruksi, dan 7 proyek dalam tahap studi kelayakan.
Pemerintah menekankan bahwa hilirisasi harus melampaui produk sekunder, beralih ke produk bernilai tambah tinggi, sesuai dengan Rencana Industri Nasional 2025-2035.