Setelah pemerintah Indonesia menghentikan kebijakan pembebasan bea masuk impor kendaraan listrik yang telah berlangsung hampir dua tahun, struktur pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara mengalami restrukturisasi. Produsen mobil China yang sebelumnya berkembang pesat berkat subsidi kini menghadapi tekanan kenaikan harga, namun tetap melakukan langkah proaktif, bersaing sengit dengan merek Jepang yang melakukan serangan balik. Kebijakan pembebasan bea masuk impor dan pajak barang mewah untuk kendaraan listrik yang diperkenalkan pada tahun 2024 berakhir pada akhir tahun 2025, dan produsen mobil China yang mengandalkan keunggulan biaya untuk penetrasi cepat menjadi yang pertama merasakan tekanan. Beberapa model BYD diperkirakan akan naik harga mulai Maret 2026, dengan kenaikan beberapa varian mendekati 20%. Data menunjukkan, pada tahun 2025 penjualan mobil listrik di Indonesia mencapai sekitar 100.000 unit, dengan merek China menguasai pangsa 59%, dan pengurangan subsidi secara langsung melemahkan keunggulan nilai mereka. Produsen mobil Jepang memanfaatkan momen ini untuk melancarkan serangan balik:
  • Honda menurunkan harga varian hybrid CR‑V sebesar 5%, melihat penghentian kebijakan sebagai titik balik penting;
  • Suzuki meluncurkan model listrik murni eVitara, dan membidik merek China dengan model hybrid;
  • Mitsubishi berencana meluncurkan model hybrid pertamanya pada tahun 2026, dan menunjukkan bahwa nilai sisa mobil listrik di pasar Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan mobil konvensional, memprediksi arus balik pasar.
Menghadapi dampak tersebut, produsen mobil China tidak mundur. Di segmen mobil listrik murni, keunggulan teknologi dan rantai pasokan produsen China masih signifikan, sulit digoyahkan oleh merek Jepang dalam jangka pendek. Para ahli berpendapat bahwa Jepang menggunakan hybrid sebagai jembatan, dan sulit memproduksi mobil listrik murni dengan biaya yang kompetitif. Produsen mobil China terus memamerkan model andalan mereka di pameran mobil Indonesia, mengimbangi dampak harga dengan kekuatan produk. Pengurangan subsidi ini mendorong pasar mobil Indonesia menuju persaingan yang lebih rasional. Produsen mobil China beralih dari ketergantungan pada subsidi menuju pendalaman produk dan lokalisasi, menjadi pihak yang menanggung tekanan perubahan kebijakan sekaligus pemain inti dalam restrukturisasi pasar, dengan potensi memperkuat posisi pasar dalam persaingan yang berkelanjutan.