Perusahaan manajemen aset negara Danantara berencana mengadakan upacara peletakan batu pertama untuk proyek pabrik baja terintegrasi berkapasitas 3 juta ton per tahun pada Maret 2026. Kepala petugas operasional sekaligus Ketua Dewan Pengawas BUMN menyatakan bahwa pengembangan kapasitas baja hulu ini merupakan prioritas inti, yang bertujuan untuk mematahkan monopoli impor baja yang telah lama menguasai pasar domestik Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat kerja dan dengar pendapat dengan Komisi VI DPR. Proyek pabrik baja berkapasitas 3 juta ton per tahun sebelumnya telah melibatkan kerja sama antara BUMN PT Krakatau Steel dengan Delong Steel Group Tiongkok yang berada di peringkat ke-11 dunia. Proyek ini direncanakan berlokasi di Kawasan Industri Cilegon, Provinsi Banten, seluas 500 hektar. Investasi Delong Steel tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi baja, tetapi juga berencana menghadirkan transfer teknologi terkait bagi Indonesia melalui konsep baja hijau. Presiden Direktur PT Krakatau Steel sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan akan menyediakan lahan proyek melalui anak usaha di bidang infrastruktur. Langkah ini bertujuan menjadikan Cilegon sebagai tolok ukur industri baja Asia Tenggara, sekaligus mengaktifkan aset operasional perusahaan. Ia juga menekankan bahwa kerja sama dengan Delong Steel tidak hanya memanfaatkan aset lahan perusahaan, tetapi juga menghadirkan transfer teknologi dan pengetahuan yang sangat bernilai. Manajemen Delong Steel Group juga mengakui keunggulan lokasi Cilegon sebagai lokasi strategis untuk membangun pusat industri baja baru, dengan fasilitas pendukung yang matang dan lengkap yang dapat mendukung pembangunan dan operasional pabrik baja besar. Saat ini grup sedang melakukan studi mendalam terhadap proyek ini, terutama tertarik pada Kawasan Industri Cilegon yang dioperasikan oleh PT Krakatau Steel.