Raksasa alat tulis Deli membangun pabrik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Indonesia. Sekilas terlihat seperti perusahaan Tiongkok lagi-lagi membangun pabrik di luar negeri, namun sebenarnya ini adalah cara baru merek konsumen Tiongkok di ASEAN—dari yang sebelumnya 'dibuat di Tiongkok lalu dikirim untuk dijual', menjadi 'dibuat di lokal, dijual ke seluruh kawasan'. Proyek ini menghabiskan 150 juta dolar AS, menempati lahan seluas 8,2 hektar, dan direncanakan menjadi basis regional yang mengintegrasikan produksi, gudang, dan logistik. Setelah beroperasi, penjualan tahunan bisa mencapai 140 juta dolar AS, serta menyediakan lebih dari 3.000 lapangan kerja bagi penduduk setempat. Untuk industri alat tulis yang tampak 'tidak mencolok', skala ini cukup besar—menunjukkan bahwa Deli tidak hanya mencoba-coba, melainkan benar-benar ingin menjadikan Indonesia sebagai basis produksi inti di Asia Tenggara. Untuk memahami langkah ini, perlu dilihat tata letak global Deli. Sebagai 'salah satu produsen peralatan kantor dan alat tulis terbesar di Asia', Deli pertama kali membangun pabrik luar negeri di Vietnam pada tahun 2019, dan pada tahun 2024 kembali menginvestasikan 270 juta dolar AS untuk proyek baru di Vietnam; juga mendirikan kantor pusat regional di Mesir yang bertanggung jawab atas pasar Timur Tengah dan Afrika Utara. Situs resmi Deli menyatakan dengan jelas: setelah pabrik Vietnam beroperasi pada 2019, mereka akan secara bertahap mendirikan pabrik di Mesir, Brasil, Meksiko, Indonesia dan tempat-tempat lain, dengan target membangun jaringan produksi yang mencakup pasar negara berkembang global. Dalam jaringan ini, Vietnam terutama melayani bisnis Eropa dan Amerika, Mesir mengelola Timur Tengah dan Afrika, sementara Indonesia menjadi 'pusat yang menjaga pasar lokal Asia Tenggara sekaligus dapat menjual ke negara-negara tetangga ASEAN'. Memilih Indonesia bukanlah keputusan asal-asalan; data populasi dan pasar adalah kuncinya. Indonesia memiliki 280 juta jiwa, di mana hampir 30% adalah anak-anak di bawah 14 tahun, yang berarti permintaan alat tulis selalu stabil. Sebuah riset menunjukkan bahwa pada tahun 2024, ukuran pasar perlengkapan kantor Indonesia mencapai 1,35 miliar dolar AS, meskipun hanya tumbuh 1,7% per tahun yang terlihat lambat, namun barang-barang kebutuhan kantor ini adalah kebutuhan pokok—selama perusahaan buka dan sekolah berjalan, kertas cetak, pulpen, dan sebagainya tetap diperlukan. Pasar alat tulis dan perlengkapan belajar Indonesia secara keseluruhan memiliki skala 500-600 juta dolar AS per tahun. Meskipun totalnya tidak naik turun drastis, produk yang lebih mahal dan berupa set semakin cepat laku, dan ini justru menjadi keunggulan Deli. Strategi Deli di pasar Indonesia—'pertama membangun jalur distribusi dan popularitas, lalu menggelontorkan dana untuk membangun pabrik'—sangat layak dipelajari oleh perusahaan lain. Sejak tahun 2018, Deli telah membuka perusahaan di Jakarta, dan melalui agen, platform e-commerce lokal seperti Tokopedia, serta supermarket offline, secara bertahap mendistribusikan produk. Mereka membuka toko resmi secara online, menampilkan produk di offline, dan menyediakan layanan purna jual. Setelah para guru, siswa, dan pekerja kantoran mengenal merek 'Deli', barulah proyek pabrik senilai 150 juta dolar AS dimulai. Jalur 'mengandalkan kapasitas produksi dalam negeri untuk memasok dan menguji pasar, lalu membangun pabrik untuk menekan biaya setelah data menunjukkan keuntungan' ini tidak perlu mengambil risiko besar sejak awal, dan juga dapat mengurangi masalah tarif, fluktuasi nilai tukar, serta pengiriman yang lambat. Pemilihan lokasi pabrik di Karawang menunjukkan bahwa Deli sangat memahami lingkungan industri setempat. Karawang terletak di Sabuk Industri Jakarta-Timur, yang merupakan 'kota mobil dan elektronik' terkenal di Indonesia, dengan banyak perusahaan otomotif dari Jepang, Tiongkok, dan Korea telah mendirikan pabrik di sana, sudah terbentuk ekosistem industri yang matang. Kawasan Industri Artha Industrial Hill yang dipilih Deli juga merupakan kawasan yang direkomendasikan oleh pemerintah Indonesia, dengan infrastruktur pendukung seperti air, listrik, dan logistik yang lengkap. Dengan menempatkan pabrik di sini, banyak pemasok kemasan dan komponen plastik di sekitarnya, sehingga pasokan bahan baku mudah; dan dekat dengan wilayah metropolitan Jakarta, barang dapat dengan cepat didistribusikan ke seluruh negeri, serta dapat dikirim ke negara ASEAN lain melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta yang internasional. Ini bukan titik produksi yang terisolasi, melainkan hub yang dapat menjangkau seluruh kawasan. Indonesia belakangan ini sangat ramah terhadap perusahaan manufaktur asing, yang juga memberi peluang baik bagi Deli. Setelah tahun 2020, Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Cipta Kerja yang menyederhanakan prosedur pendirian pabrik, mengizinkan kepemilikan asing 100% di sebagian besar sektor manufaktur, serta memberikan keringanan pajak dan subsidi riset & pengembangan. Dari sisi mitigasi risiko, saat ini berekspansi ke luar negeri tidak bisa hanya mengandalkan 'satu pabrik untuk memasok dunia'. Dulu satu pabrik besar di Tiongkok bisa menjual barang ke seluruh dunia, tetapi sekarang risiko tarif, geopolitik, dan fluktuasi biaya pengiriman terlalu banyak. Yang lebih andal adalah 'mendirikan pabrik di berbagai kawasan, memasok secara lokal'. Deli melakukan hal ini: riset & pengembangan serta produk bernilai tambah tinggi dilakukan di Tiongkok, sementara di luar negeri seperti Vietnam, Indonesia, dan Mesir dibangun pabrik untuk produk kelas menengah. Dengan cara ini, meskipun satu tempat bermasalah, pabrik lain tetap bisa beroperasi normal. Dari kasus Deli ini, dapat ditarik beberapa pelajaran praktis: Pertama, ritme harus tepat: bangun jalur distribusi dan validasi pasar terlebih dahulu, baru bangun pabrik untuk menambah kapasitas, jangan langsung menggelontorkan dana besar; Kedua, tata letak harus tersebar: riset & pengembangan di Tiongkok, bangun beberapa pabrik di luar negeri untuk memasok secara lokal; Ketiga, pemilihan lokasi harus cerdas: prioritaskan kawasan industri yang memiliki basis industri matang dan infrastruktur lengkap, biarkan kawasan tersebut mengurus urusan-urusan kecil. Lebih penting lagi, ini mematahkan persepsi umum tentang Indonesia—dulu perusahaan Tiongkok datang ke Indonesia selalu berfokus pada sumber daya seperti nikel, batu bara, atau industri berat. Padahal, merek dan manufaktur 'ringan' seperti alat tulis, peralatan rumah tangga, elektronik kecil mungkin menjadi gelombang berikutnya dari ekspansi ke luar negeri.