Produksi dan cadangan kobalt Indonesia adalah yang terbesar kedua di dunia

Produksi kobalt Indonesia pada tahun 2023 berada di urutan kedua setelah produsen kobalt terbesar di dunia, Republik Demokratik Kongo, yang memproduksi 170.000 ton kobalt pada tahun 2023, sementara Indonesia memproduksi 17.000 ton pada tahun yang sama, meningkat dari 9.600 ton pada tahun 2022.Rusia berada di posisi ketiga pada tahun 2023 dengan produksi 8.800 ton. Kongo juga memiliki cadangan kobalt terbesar di dunia dengan 6 juta ton, sementara Australia dan Indonesia masing-masing memiliki cadangan 1,7 juta ton dan 500.000 ton. Secara global, kobalt terutama digunakan dalam elektroda untuk baterai isi ulang, serta dalam pembuatan suku cadang turbin gas dan sebagai komponen vitamin B12. Indonesia akan menyumbang sekitar setengah dari produksi nikel dunia pada tahun 2023, dan diperkirakan akan menyumbang hampir 20% kobalt pada tahun 2030. Asosiasi Nikel Indonesia (INA) telah memperkirakan bahwa Indonesia dapat memperoleh tambahan pendapatan sebesar US$600 juta dari pengenaan royalti pertambangan untuk kobalt sebagai mineral yang terkait dengan nikel. Saat ini, pemerintah hanya menetapkan harga referensi untuk kobalt dan tidak memperhitungkan harga bahan baku atau pengenaan royalti. Kobalt di London Metal Exchange berada di $33.565 per ton, naik 14,91% pada hari itu, sementara nikel berada di $16.641 per ton, turun tajam dari rekor tertingginya di tahun 2022-2023.