Joko untuk mengembangkan industri hilir mineral nikel Indonesia

Salah satu pencapaian pemerintahan Joko adalah industri hilirisasi pertambangan, sebuah program yang telah menjadi tulang punggung Indonesia dan telah berhasil meningkatkan nilai tambah dari produksi tambang mentah menjadi komoditas yang sudah jadi.Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa Indonesia akhirnya mendapatkan rejeki nomplok beberapa kali lipat dari proyek hilirisasi ini. Ekspor nikel sekarang mencapai $34 miliar, melonjak menjadi sekitar Rp510 triliun dari sebelumnya Rp33 triliun. Keberhasilan hilirisasi nikel dalam negeri bermula dari larangan ekspor bijih nikel ke luar negeri sejak tahun 2020, bukan tanpa tantangan, dan larangan ekspor tersebut telah diganggu di seluruh dunia, termasuk oleh Uni Eropa (UE), yang menggugat kebijakan tersebut ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Meskipun Indonesia kalah, negara ini adalah negara yang berdaulat di mana kepentingan nasional adalah segalanya sejauh menyangkut kepentingan nasional, dan pemerintah tidak dapat menerima perintah dari siapa pun. Yang terpenting saat ini, Indonesia telah mulai mengembangkan industri nikelnya menjadi ekosistem besar untuk kendaraan listrik (EV), dan impian untuk menciptakan ekosistem EV yang kuat dan terintegrasi mulai terwujud satu per satu. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah kumulatif fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel (smelter) di Indonesia, baik yang sudah beroperasi, sedang dalam tahap konstruksi, maupun yang akan dibangun, telah mencapai 116 buah, demikian menurut Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara.
Jumlah smelter yang menggunakan proses pirometalurgi atau pengolahan nikel kadar tinggi (humus) di Indonesia telah mencapai 97 buah, dan 19 smelter lainnya menggunakan proses hidrometalurgi yang menggunakan nikel kadar rendah (limonit). Jumlah total smelter yang tersedia hingga saat ini adalah 116, belum termasuk smelter-smelter terbaru. Smelter nikel sekunder (tipe pirometalurgi) terus bertambah, dengan 28 smelter baru yang direncanakan dan 10 smelter yang menggunakan proses hidrometalurgi yang saat ini dalam tahap perencanaan. Permintaan masing-masing adalah 130 juta ton per tahun (pirometalurgi) dan 54 juta ton per tahun (hidrometalurgi), dengan 44 smelter piro-nikel dan 3 smelter hidrometalurgi di Indonesia. Pada angka awal tahun 2024, masih ada satu smelter nikel yang sedang dibangun. Terdapat 25 smelter pirometalurgi dan 6 smelter hidrometalurgi yang sedang dibangun.
Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki cadangan logam nikel sekitar 50-60 juta ton. Berdasarkan jumlah tersebut, sisa cadangan nikel di Indonesia diperkirakan masih dapat bertahan sekitar 25-30 tahun lagi, menurut deputi yang bertanggung jawab atas koordinasi investasi dan pertambangan di Kemenko Marves. Namun dengan dimulainya proyek smelter nikel yang saat ini sedang dibangun, sisa umur cadangan nikel diperkirakan akan diperpendek menjadi 20 tahun. Masalahnya sekarang adalah kapasitas, yang sedang dibangun membutuhkan sekitar 1 juta ton logam nikel, jadi jika tambang siap untuk mencapai 1 juta ton, kapasitas bisa turun, yang akan mengurangi cadangan menjadi kurang dari 20 tahun, dan mereka menargetkan untuk dapat bertahan 20-25 tahun. Itulah mengapa pemerintah saat ini juga sedang mencoba mengembangkan industri pabrik daur ulang baterai mobil listrik, alasannya karena setidaknya 99% nikel dapat diekstraksi lagi dari proses ini. Mereka sekarang memiliki teknologi untuk memulihkan 99% nikel dari baterai bekas, dan sudah ada fasilitas baterai daur ulang di Morowali, dan mereka berencana untuk membangun satu lagi, sehingga pada akhirnya Indonesia tidak hanya memproduksi nikel dari pertambangan, tetapi juga mendaur ulangnya.