Xu Longchuan: Industrialisasi Indonesia, Peluang Besar bagi Perusahaan Tiongkok

I. Sejarah Industrialisasi di Indonesia:
Pada tahun 1967, terjadi pergantian pemerintahan di Indonesia ketika militer melakukan intervensi dan pemerintah menjadi kuat di bawah Presiden Suharto, sehingga proses industrialisasi dimulai. Indonesia menerapkan proteksi tarif yang tinggi untuk tekstil dan pada tahun 1967 produksi tekstil mencapai 100 juta meter per tahun, sedangkan pada tahun 1980 meningkat 100 kali lipat dalam sepuluh tahun menjadi 10 miliar meter per tahun, mengubah Indonesia dari pengimpor menjadi pengekspor. Investasi utama datang dari Jepang, yang memperkenalkan teknologi ke Indonesia dengan menjual mesin dan peralatan, mulai dari alat tenun hingga produk jadi. Hal ini diikuti dengan perkembangan pesat sektor konstruksi perumahan, industri makanan, pengolahan makanan dan transportasi. Pada saat itu, Indonesia menjadi swasembada beras, dan berubah dari pengimpor menjadi pengekspor. Manufaktur mobil, terutama produksi komponen, juga tumbuh pesat, terutama karena permintaan kendaraan bermotor, terutama sepeda motor dan mobil kecil, karena tenaga kerja Indonesia yang murah dan basis populasi yang besar.
Merek-merek ini masuk ke Indonesia pada tahun 1970-an dan dengan demikian, tahun 1970-an hingga 1980-an adalah masa keemasan industri Indonesia dengan perkembangan yang cukup besar untuk produk-produk yang diproduksi di dalam negeri. Pada tahun 1989, pemerintah mulai mengusulkan pendirian kawasan industri untuk mengakomodasi relokasi perusahaan-perusahaan, terutama dari Jepang, yang mengalami krisis mata uang dan nilai tukar yen. Akibatnya, dari tahun 1990-an dan seterusnya, ekonomi Jepang mengalami stagnasi dan manufaktur perlu direlokasi ke luar negeri, dengan Asia Tenggara, terutama Indonesia, Thailand dan Malaysia, menjadi target utama. Sejak tahun 1989 dan seterusnya, terutama di daerah Bekasi dan Kalawang, Kawasan Industri Jababeka menjadi pelopor. Sejak saat itu, proses industrialisasi Indonesia semakin cepat dengan masuknya investasi asing. Tahun 1997 merupakan tahun runtuhnya rezim Suharto setelah Krisis Keuangan Asia dan reformasi pemerintahan yang tadinya otoriter menjadi pemerintahan yang demokratis. Suharto berkuasa selama 32 tahun, dan sejak tahun 1998 dan seterusnya, kepresidenan mulai sering berganti, dengan Habibie menjabat selama satu tahun, Wahid selama satu tahun, Megawati selama tiga tahun, kemudian Susilo selama sepuluh tahun, dan Jokowi selama sepuluh tahun. Dengan demikian dalam waktu kurang dari 20 tahun, Indonesia telah memiliki lima presiden, dibandingkan dengan dua presiden dari Sukarno hingga Soeharto dalam hampir 50 tahun sebelumnya.
Dengan perubahan-perubahan ini, proses industrialisasi menderita dan investasi menurun karena langkah-langkah proteksi dihapus dan Indonesia, setelah bergabung dengan WTO, tidak dapat lagi melindungi industrinya. Pada saat yang sama, kebangkitan Cina dan munculnya Vietnam serta masuknya barang-barang dari Cina ke Indonesia membuat industri Indonesia secara bertahap menjadi kurang kompetitif, terutama industri tekstil yang mulai runtuh, dan kurangnya dana untuk membeli mesin dan teknologi baru.
II. Peluang bagi Perusahaan Cina untuk Masuk ke Indonesia
Setelah tahun 2000, investasi menurun karena perubahan dalam sistem politik dan kekhawatiran investor asing terhadap ketidakstabilan politik Indonesia, kecuali Korea Selatan. Korea Selatan, yang juga menghadapi masalah seperti Jepang pada tahun 2000, berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia, dengan jumlah pabrik yang masuk ke Indonesia empat hingga lima kali lebih banyak daripada Jepang. Hal ini mengakibatkan kawasan industri di daerah Bekasi dan Kelawang mendapatkan keuntungan besar dari investasi besar-besaran Korea. Namun, dalam hal industri otomotif, Jepang masih memiliki pusat distribusi yang kuat dan terus menambah kapasitas. Pada saat ini, fokus Indonesia tidak lagi pada produksi makanan, pakaian, dan perumahan, tetapi pada pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur menyebabkan perlambatan dalam industrialisasi, tetapi mempersiapkan negara ini untuk babak baru investasi, dan ketika Inisiatif Sabuk dan Jalan masuk ke Indonesia pada tahun 2013, Presiden Jokowi menjadi pemimpin yang paling tepat karena ia mendorong pembangunan infrastruktur sebagai persiapan untuk industrialisasi ulang. Tanpa perbaikan infrastruktur, daya saing Indonesia akan menjadi lemah dan industrialisasi tidak akan mungkin terjadi. Pada saat yang sama, ini adalah kesempatan bagi negara-negara yang ingin memindahkan pabrik-pabrik mereka ke luar negeri, seperti Cina, yang sekarang menghadapi situasi yang mirip dengan Jepang di tahun 1990an dan Korea Selatan di tahun 2000an, untuk menjadi negara yang paling siap dalam hal infrastruktur.
III. Bagaimana membuat Indonesia berisiko rendah
Sekarang Indonesia telah berkembang menjadi negara demokrasi yang lebih matang, cara untuk memasuki pasar berbeda dengan masa lalu. 25 tahun yang lalu, segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan berurusan dengan pemerintah pusat, sedangkan sekarang perlu untuk berkomunikasi dengan semua tingkat pemerintahan, termasuk pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Oleh karena itu, untuk masuk ke pasar Indonesia, seseorang perlu memiliki mitra, kecuali perusahaan besar seperti Castle Peak Group, tetapi Castle Peak juga memiliki mitra di Indonesia. Untuk berinvestasi di Indonesia, perlu memiliki mitra yang tepat.
Mitra yang baik dapat disediakan oleh Pemerintah di kawasan ekonomi khusus atau kawasan industri, yang dapat menjadi mitra bagi perusahaan kecil dan menengah. Untuk perusahaan yang sangat besar, mereka sebenarnya dapat mendirikan zona industri mereka sendiri, tetapi untuk perusahaan menengah dan besar lebih baik masuk ke kawasan industri, di mana mereka bisa mendapatkan jaminan hukum dan infrastruktur yang baik, seperti di kota modern lainnya. Kawasan-kawasan tersebut berada di dalam zona ekonomi khusus. Oleh karena itu, ada solusi untuk perusahaan asing yang ingin masuk ke Indonesia, meskipun mereka menghadapi kesulitan.
Investor Jepang selalu mencari mitra lokal, dan kebutuhan itu semakin kuat sekarang. UKM tidak memiliki sumber daya yang sama dengan perusahaan besar, jadi cara termudah adalah membeli bisnis yang sudah jadi atau menyewanya terlebih dahulu, yang akan lebih mudah, terutama karena lebih aman untuk memulai dengan berdagang terlebih dahulu. Berdagang memungkinkan Anda untuk membangun pertemanan, belajar tentang sistem distribusi Indonesia, budaya, dan cara berbisnis di Indonesia, cara mengajukan izin pemerintah, dan mempelajari pasar Indonesia. Oleh karena itu, langkah pertama untuk memasuki Indonesia adalah perdagangan, yang merupakan langkah paling aman. Kemudian diikuti dengan investasi. Dalam proses investasi, penting untuk memilih mitra yang tepat, dan mitra yang ideal harus sudah memiliki saluran distribusi dan pelanggan. Dibutuhkan waktu untuk menilai dan menemukan mitra yang paling cocok.
IV. Perbedaan antara Cina, Jepang dan Korea Selatan dalam Melakukan Bisnis di Indonesia
Karena sejarah panjang hubungan Indonesia dengan Jepang, orang Indonesia telah belajar bahwa bernegosiasi dengan orang Jepang membutuhkan waktu yang lebih lama, tetapi begitu kesepakatan tercapai, orang Jepang sangat berkomitmen dan mampu membangun hubungan jangka panjang. Dan tidak seperti pengalaman dengan Cina, yang cepat membuat keputusan tetapi kemudian mengubahnya, situasi ini membuat orang Indonesia kurang nyaman. Korea, di sisi lain, memiliki lebih sedikit kemitraan karena sebagian besar perusahaan Korea yang masuk ke Indonesia adalah perusahaan besar yang rantai pasokannya dilindungi oleh perusahaan besar seperti Samsung dan Hyundai, yang hampir membentuk komunitas kecil mereka sendiri. Sedangkan untuk Cina, mereka telah mengembangkan pemahaman tertentu karena mereka memiliki lebih sedikit pengalaman tetapi telah bersama dengan orang Cina di Indonesia selama lebih dari 1.000 tahun.
Sebagai hasilnya, orang Tionghoa di Indonesia telah menjadi jembatan penting bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk masuk ke Indonesia saat ini, dan banyak dari mereka yang telah berbaur dengan penduduk setempat dan dianggap sebagai orang Indonesia dengan semangat patriotik. Namun, lebih sulit untuk membedakan orang-orang ini karena kemiripan penampilan mereka, jadi melalui mitra yang berpengalaman di Indonesia adalah cara terbaik untuk mempelajari cara berbisnis di Indonesia.