MEMUAT BARANG...

Indonesia fokus pada hilirisasi pertanian untuk mendominasi ASEAN

印尼专注农业下游以主导东盟地区

Anjloknya harga komoditas dan pelemahan ekonomi Tiongkok akan menjadi tantangan bagi pemerintah baru untuk meningkatkan ekspor, namun Indonesia juga memiliki potensi ekspor yang signifikan di sektor hilir pertanian.Harga komoditas melonjak pada tahun 2022 setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina pada bulan Februari. Harga batu bara, emas, dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) secara bergantian mencetak rekor baru. Data menunjukkan bahwa harga rata-rata batu bara mencapai US$345,41 per ton pada tahun 2022, naik 128,61 TP3T dari tahun sebelumnya, demikian pula dengan harga rata-rata tahunan minyak kelapa sawit mentah yang melonjak menjadi 4.155,1 ringgit Malaysia per ton pada tahun 2022, atau naik 1.341 TP3T. Harga batu bara mencapai rekor tertinggi di tahun 2022 dan mencapai puncaknya di level US$463 pada tanggal 5 September 2022, sementara harga minyak kelapa sawit mentah juga mencapai rekor tertinggi di tahun 2022. Harga minyak kelapa sawit mentah menyentuh level tertinggi sepanjang masa di MYR7.268/ton pada tanggal 9 Maret 2022. Harga nikel mencapai rekor baru di bulan Maret 2022, bahkan perdagangan sempat dihentikan selama seminggu di awal Maret 2022 di London Metal Exchange (LME) akibat aksi jual yang menyebabkan harga nikel naik hingga lebih dari US$100.000/ton. Harga komoditas mulai melonjak pada akhir 2021, sejalan dengan aktivitas perdagangan global yang normal setelah pandemi Covid-19, dan periode 2022-2023 merupakan "booming komoditas" pertama di dunia sejak satu dekade terakhir atau 2010-2012. Ekspor Indonesia mencatatkan sejumlah rekor pada tahun 2022, mencapai puncaknya pada bulan Agustus 2022 sebesar US$27,86 miliar akibat melonjaknya harga minyak sawit mentah dan batu bara. Di sisi lain, pertumbuhan impor domestik sejauh ini pada tahun 2020 belum mencapai tingkat sebelum pandemi. Lonjakan ekspor komoditas, tetapi tidak pada impor, telah menyebabkan Indonesia mencatatkan surplus jangka panjang selama 52 bulan berturut-turut, dengan periode surplus dari Mei 2020 hingga Agustus 2024, periode surplus terpanjang sejak era Soeharto. Ekspor Indonesia di era Joko juga diuntungkan oleh peningkatan yang kuat dalam bisnis hilirisasi nikel. Menurut data BPS, ekspor feronikel Indonesia melonjak dari US$373,6 juta (Rp5,66 triliun) pada tahun 2010 menjadi US$15,29 miliar (Rp231,57 triliun) pada tahun 2023. Ekspor nikel dan produknya juga melonjak dari US$1,44 miliar (Rp21,81 triliun) pada 2010 menjadi US$6,82 miliar (Rp103,29 triliun) pada 2023.

Di sisi lain, impor tetap lemah, terutama untuk barang konsumsi, yang menandakan perlambatan permintaan domestik, impor barang konsumsi hanya akan tumbuh 8,61 TP3T pada tahun 2023 dan bahkan akan mengalami kontraksi pada tahun 2022. Padahal, impor barang konsumsi tumbuh dua digit sebelum wabah. Ekonom UOB mengatakan bahwa penurunan impor sebagian besar disebabkan oleh penurunan tajam impor barang konsumsi selama dan setelah wabah Singkwan, yang menunjukkan bahwa tingkat konsumsi dan kepercayaan masyarakat masih belum pulih. Orientasi perdagangan Indonesia telah berubah dalam beberapa tahun terakhir, dengan RRT kini menggantikan AS dan Jepang sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. sebelum tahun 2010-an, Jepang adalah tujuan ekspor utama atau mitra dagang terbesar Indonesia. Perubahan signifikan telah terjadi sejak diluncurkannya Perjanjian Perdagangan Bebas China-ASEAN (ACFTA) pada tahun 2004, yang menghapuskan tarif ekspor Indonesia sebesar 94,61% ke China. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perdagangan Indonesia dengan Jepang pada tahun 2004 adalah sebesar US$18,62 milyar, dengan nilai ekspor Indonesia mencapai US$15,96 milyar. Sementara itu, perdagangan dengan China hanya sebesar $12,24 miliar, dimana $4,6 miliar merupakan ekspor, dan pada tahun 2014, 10 tahun setelah ACFTA diberlakukan, perdagangan Indonesia dengan China melonjak menjadi $48,23 miliar, dimana $17,61 miliar merupakan ekspor. Sejak tahun 2011, Tiongkok telah menjadi pasar ekspor non-hidrokarbon terbesar bagi Indonesia. Sejak tahun 2021, perdagangan antara kedua negara bahkan telah melampaui 100 miliar dolar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ekspor Indonesia ke Tiongkok melonjak dari US$17,61 miliar pada tahun 2014 menjadi US$64,93 miliar pada tahun 2023. Ekspor ke Tiongkok menyumbang 251 triliun rupiah dari total ekspor Indonesia pada tahun 2023, dengan komoditas utama yang dikirim ke Tiongkok termasuk batu bara, minyak kelapa sawit, baja, dan bijih besi. Menurut UOB, China mendominasi pasar ekspor baja Indonesia pada tahun 2023 dengan pangsa 68,71 TP3T. Sementara itu, untuk komoditas batu bara dan minyak kelapa sawit mentah, China menyumbang 29,61 TP3T dan 21,41 TP3T dari total ekspor Indonesia untuk kedua komoditas tersebut. Ekonomi Tiongkok tumbuh hanya sebesar 4,71 TP3T (year-on-year) pada kuartal kedua tahun 2024, turun dari 5,31 TP3T pada kuartal pertama tahun 2024. Pelemahan ekonomi Tiongkok berdampak pada ekspor ke Indonesia, yang turun 8,71 TP3T menjadi 33,12 miliar dolar AS pada periode Januari-Juli 2024.

Diversifikasi produk dan pasar ekspor merupakan kunci untuk mencapai pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan di Indonesia, seperti yang dijelaskan oleh para ekonom UOB dalam laporan Macro Note Indonesia: Export Diversification Key to Sustainable Growth. Diversifikasi komoditas, terutama produk-produk yang memiliki nilai tambah. Penting bagi Indonesia untuk mengoptimalkan komoditas ekspor lainnya, terutama karet, kopi, dan ikan. Ekspor ke ASEAN, India, dan Amerika Serikat perlu ditingkatkan untuk mengimbangi kemungkinan penurunan ekspor ke Tiongkok. Menurut UOB, ASEAN merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia dan telah menyumbang rata-rata 211 TP3T selama dua dekade terakhir, dengan bahan bakar fosil, terutama batu bara, sebagai komoditas yang berkontribusi paling besar terhadap ekspor Indonesia ke ASEAN. Indonesia juga merupakan eksportir mobil dan suku cadang mobil di ASEAN, terutama mobil, sepeda motor, dan suku cadang mobil. Indonesia dan ASEAN juga telah menandatangani perjanjian ASEAN Free Trade Area (AFTA), yang memudahkan Indonesia untuk menjadi eksportir ASEAN. India juga merupakan pasar ekspor yang menarik untuk dijajaki lebih lanjut, sebagai negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia, India merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia, terutama untuk komoditas batu bara dan minyak kelapa sawit.2024 Dari bulan Januari hingga Juli, ekspor Indonesia ke India meningkat hampir Rp101 triliun menjadi US$12,34 miliar. Selain itu, ekspor Indonesia juga didukung oleh permintaan yang stabil dari Amerika Serikat di tengah melemahnya permintaan dari Tiongkok. Dari Januari hingga Juli 2024, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tumbuh sebesar 6,81 TP3T menjadi US$14,35 miliar. Prospek permintaan untuk minyak kelapa sawit mentah, tekstil, dan elektronik akan tetap positif di tengah perekonomian AS yang kuat.

Indonesia adalah negara terbesar keenam di dunia dalam hal sumber daya geologi, dengan hampir semua komoditas utamanya adalah batu bara, logam mulia dan logam biasa. Indonesia juga memiliki potensi besar dalam produk pertanian, terutama minyak sawit mentah, karet, kopi, dan ikan. Meskipun cadangan mineral melimpah, pada akhirnya akan habis seiring dengan eksplorasi dan ekspansi yang terus berlanjut. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyatakan bahwa cadangan nikel Indonesia yang telah terbukti dan potensial akan habis dalam 15 tahun ke depan, jadi negara ini perlu mengoptimalkan sektor pertanian dan perikanan untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan. Indonesia menargetkan untuk mengekspor sekitar $68 miliar produk pertanian, termasuk produk turunannya, pada tahun 2024. Berbagai macam komoditas seperti minyak kelapa sawit mentah, karet, kayu dan turunannya, ikan, makanan olahan, dan minyak atsiri mendukung ekspor pertanian di tahun 2023, dengan pangsa sekitar 301 TP3T dari total ekspor Indonesia. Ekspor hilir produk pertanian terus meningkat, dengan sekitar 531 TP3T dari total ekspor karet Indonesia dalam bentuk karet olahan dalam bentuk bubuk karet, dan sekitar 401 TP3T dari total ekspor produk kayu dalam bentuk kayu olahan. kayu olahan dalam bentuk produk akhir mebel. Indonesia akan membentuk pemerintahan baru yang dipimpin oleh Presiden Prabowo pada tanggal 20 Oktober. Menurut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang baru saja disetujui untuk tahun 2025, pengeluaran tahun depan akan dialokasikan sebesar Rp 3.621,31 triliun. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi ditetapkan sebesar 5,21%.

Alokasi anggaran APBN 2025 untuk infrastruktur adalah Rp 433,9 triliun, sementara anggaran untuk pengelolaan subsidi adalah Rp 307 triliun. DPR telah memberikan keleluasaan kepada pemerintah baru untuk merealokasi APBN 2025, dan untuk mendukung pembentukan kabinet baru, Badan Anggaran dan pemerintah sepakat untuk memberikan fleksibilitas dalam merealokasi anggaran untuk memenuhi kebutuhan anggaran kementerian dan lembaga yang baru. Keleluasaan ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam APBN 2025 untuk meningkatkan belanja produktif dan mendukung perekonomian, terutama untuk mendorong konsumsi dan ekspor. Publik juga berharap presiden kedelapan Indonesia ini dapat melanjutkan transformasi struktural yang berkelanjutan mulai dari hilirisasi pertambangan dan pangan, memperbaiki sistem perpajakan, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta melanjutkan transisi energi. Pengembangan manufaktur yang berorientasi ekspor juga diperlukan bagi Indonesia dalam menghadapi penurunan harga-harga komoditas dan pelemahan ekonomi Tiongkok.

 

© 版权声明

相关文章

id_IDIndonesian