Tiongkok masih menjadi sumber utama impor pakaian jadi Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui bahwa nilai impor pakaian jadi untuk kode HS 61 dan 62 mengalami peningkatan sebesar 55.461 TP3T dan 29.611 TP3T per bulan (month-to-month/mtm).Dari sisi negara asal impor, barang HS 61 yang terdiri dari garmen rajutan dan aksesoris berasal dari China, Bangladesh, Turki, dan Italia.Pada saat yang sama, barang HS 62 yang terdiri dari garmen dan aksesori daripada pakaian rajut lebih banyak berasal dari China, Bangladesh, Vietnam, Hong Kong, China, dan Maroko. Faktanya, impor garmen siap pakai meningkat, terutama HS 61 garmen dan aksesoris rajutan dan HS 62 garmen dan aksesoris bukan rajutan. Secara bulanan, HS 61 mengalami peningkatan sebesar 55.461 TP3T dan HS 62 sebesar 29.611 TP3T. Meskipun secara bulanan, secara kumulatif impor garmen siap pakai, khususnya dari Tiongkok, tercatat mengalami penurunan. Misalnya, untuk impor barang HS 62, terjadi penurunan sebesar 1.711 TP3T selama Januari-Juli 2024, dan kelompok garmen yang mengalami penurunan cukup tinggi adalah garmen bukan katun atau kode HS 6212099.
Sementara itu, impor barang HS 61 turun lebih tajam lagi, menjadi 4.751 TP3T. Komoditas terbesar dalam penurunan tersebut adalah pakaian rajutan dan aksesori. Namun, perlu dicatat bahwa sepanjang Januari hingga Juli 2024, impor barang pakaian rajut HS 61 dari China turun dengan total kumulatif 4.751 TP3T, dengan penurunan terbesar pada pakaian rajut atau aksesori, selain penurunan 1.711 TP3T pada HS 62. Sama halnya dengan impor barang pakaian, nilai impor alas kaki dari China yang termasuk dalam kode HS 64 hingga Juli 2024 meningkat 3,371 TP3T (m) dan 21,541 TP3T y-o-y menjadi US$50,99 juta. Baik pakaian jadi maupun alas kaki mengalami peningkatan secara bulanan. Namun, untuk melihat kinerja ekspor dan impor barang, ada baiknya jika dilihat secara kumulatif dalam periode waktu tertentu. Permintaan stok dapat bervariasi dari bulan ke bulan jika dipengaruhi oleh proses waktu pengiriman yang relatif terlambat di akhir bulan, tetapi akan lebih baik untuk melihat bagaimana kinerja impor dan ekspor suatu negara dengan lebih baik dengan melihat angka-angka yang telah diperoleh atau angka-angka kumulatif.