YLKI mengimbau konsumen untuk mewaspadai impor pangan ilegal dari China

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai produk makanan dan minuman ilegal dari China karena dapat membahayakan kesehatan masyarakat.Peneliti YLKI mengatakan masyarakat harus lebih berhati-hati ketika membeli produk makanan dan salah satu cara untuk menghindari membeli produk makanan ilegal adalah dengan memeriksa izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ia mengimbau konsumen untuk tidak membeli makanan atau minuman yang tidak memiliki izin edar dari BPOM. Ia menyoroti banyaknya kasus gangguan kesehatan yang disebabkan oleh makanan ilegal dari China dalam beberapa dekade terakhir, karena seringnya terjadi masalah pada kualitas dan keamanan makanan ilegal dari China. Sebagai contoh, pada bulan Mei 2024, enam siswa di Sukabumi menderita pusing, mual dan muntah setelah membeli makanan ringan pedas dari merek China. Situasi serupa terjadi di provinsi Sumatera Selatan, di mana 18 siswa menderita sakit kepala dan kembung setelah makan makanan ringan permen lunak dari China.
Kasus terakhir menemukan bahwa minyak goreng dari China tercampur dengan bahan bakar, hal ini terjadi karena kapal tanker tidak membuang bahan bakar saat mengangkut minyak goreng tersebut untuk memangkas biaya. Ia menyarankan masyarakat untuk lebih banyak mengkonsumsi produk lokal, kualitas produk makanan dan minuman lokal lebih baik daripada produk asing seperti dari China, dan sebenarnya produk makanan dan minuman lokal lebih aman. Otoritas Pangan Singapura (SFA) menghentikan penjualan produk kacang tanah yang diimpor dari China pada Mei 2024 dalam ukuran kemasan 500g dan 1kg, karena produk yang ditarik tersebut mengandung pemanis buatan pemanis pemanis buatan dan acesulfame dalam jumlah yang melebihi batas aman. Skandal makanan terbesar yang menyebabkan kegemparan di Tiongkok adalah skandal susu pada tahun 2008, ketika beberapa produsen susu Tiongkok ditemukan mengandung bahan kimia melamin. Kasus ini melibatkan 300.000 korban, 54.000 di antaranya dikirim ke rumah sakit dan enam bayi meninggal karena gagal ginjal, dan menyebabkan rendahnya tingkat kepercayaan terhadap produk susu di negara tersebut.