MEMUAT BARANG...

Industri farmasi Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor

印尼制药业仍然高度依赖进口原材料

Industri manufaktur farmasi Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor untuk memproduksi obat-obatan, dan industri API farmasi hulu belum cukup berkembang untuk memasok bahan baku yang dibutuhkan untuk manufaktur farmasi hilir. Indonesia membutuhkan investasi dan penelitian yang berkelanjutan dalam pengembangan bahan baku farmasi untuk mengurangi ketergantungan pada API impor.Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian mengatakan bahwa saat ini sekitar 90% bahan baku untuk industri farmasi masih harus diimpor, dan negara sumber utama impor bahan baku adalah China dan India. Besarnya permintaan impor bahan baku farmasi membuat industri farmasi sangat bergantung pada pasokan dari negara asal impor, dan karena industri ini mengimpor hampir seluruh bahan bakunya, industri ini juga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. Salah satu alasan mengapa permintaan bahan baku farmasi impor tetap tinggi adalah karena industri farmasi hulu, yaitu industri kimia dasar, masih belum berkembang. Fondasi industri farmasi tanah air masih dangkal, terutama industri kimia dasar yang memproduksi bahan baku obat (BBO), dan pasokan industri BBO belum mampu memenuhi permintaan industri farmasi. Industri bahan baku obat masih belum berkembang, karena industri ini didominasi oleh industri formulasi. Sebagian besar industri farmasi dalam negeri, baik perusahaan dalam negeri (PMDN) maupun perusahaan asing (PMA), masih berfokus pada formulasi obat generik atau obat paten. Dengan demikian industri farmasi masih membutuhkan impor, termasuk beberapa produk yang sudah dipatenkan, kadar biologis yang tepat, dan obat-obat tertentu yang berteknologi tinggi.

Menurut data dari Kementerian Perindustrian, saat ini terdapat 18 perusahaan industri BBO. Mereka memproduksi berbagai jenis BBO, termasuk garam farmasi dan berbagai jenis bahan kimia BBO. Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk itu adalah mendorong investasi di industri BBO, baik berupa munculnya perusahaan baru di industri BBO maupun berbagai penelitian untuk mengembangkan formulasi produk BBO. Untuk mendorong investasi diperlukan insentif fiskal berupa keringanan pajak untuk menarik minat investor. Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Biofarmasi dan Bahan Baku Obat (BPMA) mengatakan pengembangan hilirisasi BBO membutuhkan riset dan pengembangan jangka panjang. Hal ini dikarenakan konsumsi obat secara langsung mempengaruhi kesehatan manusia, sehingga membutuhkan proses yang panjang agar BBO dapat memenuhi persyaratan. Salah satu yang terus dikembangkan adalah produksi bahan baku di dalam negeri agar dapat memenuhi kebutuhan garam farmasi, bahan infus, pelarut tablet, dan sirup. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI mengatakan bahwa obat merupakan salah satu komoditas penting yang dibutuhkan masyarakat. Aksesibilitas dan keterjangkauan obat serta harga yang terjangkau sangat dibutuhkan untuk mendukung masyarakat yang sehat dan kuat sehingga pengembangan industrinya perlu mendapat prioritas tinggi.

© 版权声明

相关文章

id_IDIndonesian