MEMUAT BARANG...

Kata bos: Mengapa BYD dan Yadi memilih Indonesia

掌柜说:比亚迪和雅迪为何双双选择印尼

Apa makna di balik fakta bahwa BYD dan Yadi, dua perusahaan kendaraan listrik terkemuka di Tiongkok, memilih untuk mendirikan pabrik di Indonesia pada bulan Mei lalu? Mari kita lihat lebih dekat topik ini:

Pertama, sebagai pasar konsumen terbesar keempat di dunia, dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dan PDB per kapita sebesar US$5.000, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk konsumsi mobil dan motor. Indonesia menjual sekitar satu juta mobil per tahun, dengan tingkat retensi 29 juta unit, sementara penjualan tahunan sepeda motor mencapai lima juta unit, dengan tingkat retensi 130 juta unit. Namun, selama empat dekade terakhir, pasar mobil dan sepeda motor di Indonesia hampir dimonopoli oleh merek-merek Jepang, dengan perusahaan-perusahaan Jepang mendominasi produksi suku cadang dan seluruh pasar kendaraan dan saluran konsumen. Meskipun Wuling dan Dongfeng Xiaokang telah mendirikan pabrik di Indonesia sejak tahun 2015, sangat sulit untuk mendapatkan pijakan di pasar yang didominasi oleh merek-merek Jepang ini.

Kedua, pada tahun 2019, pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden No. 55, yang bertujuan untuk mendorong pengembangan industri kendaraan listrik, dan pada bulan Maret 2023, pemerintah Indonesia memperkenalkan kebijakan subsidi fiskal untuk kendaraan listrik, untuk produsen mobil yang telah mendirikan pabrik di Indonesia dan memiliki nilai TKDN melebihi TKDN401, kendaraan listrik berhak mendapatkan subsidi antara TKDN251 dan TKDN801, dengan pajak pertambahan nilai (PPN) yang dikurangi dari TKDN111 sedangkan sepeda motor listrik akan menikmati subsidi sebesar Rp7 juta per unit, yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun 2025. Rangkaian kebijakan yang menguntungkan ini telah menarik minat perusahaan-perusahaan mobil listrik terkemuka di China, termasuk BYD dan Yadi, untuk berinvestasi dan membangun pabrik di Indonesia.

Terakhir, Indonesia memiliki sumber daya nikel yang kaya, dengan cadangan sekitar 21 juta ton, yang merupakan 24% dari cadangan global, menempati peringkat pertama di dunia. Pemerintah Indonesia berharap dapat memanfaatkan sumber daya ini untuk membangun seluruh rantai industri yang mencakup bahan baku hulu dan produksi baterai hingga manufaktur hilir kendaraan listrik, dengan tujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur kendaraan listrik di ASEAN.

© 版权声明

相关文章

id_IDIndonesian