MEMUAT BARANG...

Pakaian anak-anak impor menguasai pasar 70% offline Indonesia

进口童装控制印尼线下70%市场

Barang-barang impor dianggap mendominasi pasar di Dhana Abang, dan menurut para pedagang Dhana Abang, sangat sulit untuk menemukan beberapa produk yang diproduksi di dalam negeri dibandingkan dengan barang impor.Pengurus Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengungkapkan bahwa banyak produsen yang gulung tikar karena banyaknya produk impor. Hal ini disebabkan oleh impor berbagai macam komoditas yang merajalela, sehingga membuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) semakin terjepit.Omzet Dana Abang akan menurun sebesar 501 triliun rupiah pada tahun 2024, dengan sekitar 701 triliun rupiah didominasi oleh barang-barang impor, terutama pakaian anak-anak.Tirai impor menghabiskan 90% barang, dan hampir tidak ada produsen tirai yang dapat bertahan di Jawa Barat, Jakarta, dan Jawa Tengah, yang terakhir telah tutup.

Untuk meminimalkan impor, pemerintah kemudian mengeluarkan undang-undang peraturan perdagangan tentang kebijakan dan peraturan impor. Dampak dari impor, terutama pakaian jadi, akan menjadi 501 TP3T pada tahun 2024, dan 701 TP3T tekstil dikendalikan oleh impor. Ironisnya, sangat mudah untuk mengimpor barang. Untuk itu para pengusaha besar tekstil memberikan respon positif untuk mendukung pemerintah dalam mengeluarkan regulasi untuk mengatur arus impor. Tanpa bantuan pemerintah terhadap industri tekstil, ia yakin semua produsen akan tutup pada tahun 2045 dan tidak akan ada yang bertahan ketika industri tekstil tutup.

© 版权声明

相关文章

id_IDIndonesian